Tampilkan postingan dengan label pandawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pandawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

sesampainya di Kandawaprastha,, Drupadi melakukan persembahan kepada pertiwi. seketika langit menjadi gelap dan petir menyambar2. ternyata ini adalah ulah Taksaka yang tidak senang dengan kehadiran manusia di wilayahnya. masih dalam kebingungan,, tiba2 rombongan Pandawa dikejutkan dengan serangan ribuan ular ilusi yang diperintahkan Taksaka untuk menggigit siapa saja. Pandawa berusaha melindungi rakyatnya dengan menyingkirkan ular2 itu,, bahkan Drupadi turut mengangkat senjata. lalu dari dalam tanah muncul seekor ular raksasa berkepala tujuh yang merupakan jelmaan Taksaka. Arjuna mengambil busur dan menembakkan anak panahnya yg mengenai dada dari salah satu badan ular,, ular berkepala tujuh itu pun menampakkan wujud asli Taksaka. karena telah terluka Taksaka kembali masuk ke dalam hutan maya. setelah kepergian Taksaka serangan ular pun berhenti. Pandawa dan Drupadi tertegun melihat sekelilingnya yang porak poranda. tubuh rakyatnya bergelimpangan,, perabotan yang dibawanya pun hancur berserakan. Drupadi yg gusar mendesak Pandawa agar mencari solusi untuk situasi ini. Arjuna meminta bantuan dari dewa Agni utk menghancurkan ilusi yg telah diciptakan Mayasur tanpa merusak hutan dan seluruh isinya termasuk pasukan ular Taksaka,, karena hanya ular2 tersebut yg bisa menyembuhkan rakyat mereka. Arjuna menembakkan panah ke langit tepat di atas hutan, kemudian terjadi ledakan di langit dan tercipta bola api yg berjatuhan membakar ilusi hutan tsb. di dalam hutan,, Taksaka yg terluka parah memanggil dewa Indra dan menagih janjinya utk melindungi wilayahnya. dewa Indra pun muncul dihadapan Pandawa dan memperingati Arjuna bahwa daerah tersebut adalah dalam perlindungannya,, dan rombongan pandawa diminta pergi dari sana. namun Arjuna menolak. dewa Indra menjadi marah dan menciptakan hujan untuk memadamkan api dewa Agni. Arjuna pun mencegah tetesan hujan mencapai hutan dengan menciptakan lapisan api di atas hutan yang menguapkan seluruh tetesan air yg diturunkan dewa Indra. Taksaka meminta dewa Indra mengeluarkan senjata Vajra. Mayasura yg tidak suka dgn perselisihan ini memilih pergi meninggalkan Taksaka. dewa Indra melemparkan sebongkah batu raksasa ke arah Arjuna yg kemudian meledakkan batu raksasa itu menjadi ribuan batu yg berjatuhan ke bumi. beberapa batu tersebut mengenai Arjuna dan menimbunnya. namun Arjuna segera bangkit dan kembali menantang dewa Indra. dewa Indra yg semakin marah akhirnya mengeluarkan senjata Vajra dan melontarkannya ke arah Arjuna. Arjuna yg tak gentar sedikitpun membalas dengan melepaskan anak panah dari busur saktinya. namun tiba2 datang sebuah senjata yang melenyapkan kedua senjata yang hampir saja beradu. ternyata senjata itu adalah Cakra Sudarsana milik Basudewa Krisna
ya.. Krisna telah datang untuk menengahi pertempuran,, Krisna turun dari keretanya dan berjalan menuju Arjuna dengan senyum khasnya..
dan cerita pun berlanjut...
Krisna datang menengahi perselisihan antara Arjuna dan Dewa Indra. Dewa Indra tidak mau mengalah karena telah berjanji untuk melindungi wilayah tersebut. namun Krisna mengatakan bahwa Pandawa dan rakyat tidak bermaksud untuk mengganggu ketentraman bangsa ular. Dewa Indra pun mengambil wujud seukuran manusia dan datang kehadapan Krisna dan Arjuna dan mengatakan bahwa tantangan Arjuna telah membuatnya marah. Krisna menenangkan Dewa Indra dgn mengatakan bahwa Arjuna bukannya menantangnya namun ingin memperlihatkan keahliannya akan seni dan perang yg telah diwarisinya dr dirinya sendiri. mendengar hal ini Dewa Indrapun terkesan dan bersedia memenuhi permintaan Arjuna. sebelum mengajukan permintaan,, Arjuna mengucapkan janjinya bahwa ia berjanji akan bersedia hidup damai berdampingan dgn bangsa ular. setelah mengucapkan janji,, Arjuna mengajukan sebuah permintaan agar Dewa Indra mendirikan sebuah kota untuk mereka. sambil tersenyum bangga, Dewa Indra menyetujui hal ini dgn meminta bantuan dari Mayasura sang ahli ilusi. Taksaka yang mendengar hal ini sangat marah dan bersumpah untuk membunuh keturunan terakhir dari Arjuna.
setelah kepergian Dewa Indra,, pasukan ular mendatangi tubuh rakyat yang bergelimpangan dan menarik kembali bisa racunnya. setelah racun keluar dr tubuh mereka, rakyat kembali hidup seperti sedia kala. di hadapan Arjuna dan Krisna,, Mayasura muncul dan meminta maaf. Krisna pun memaafkan dan memberikan sedikit nasehat kpd Mayasura. Mayasura berterimakasih krn telah dimaafkan dan berjanji akan membantu Pandawa di kemudian hari.
setelah Mayasur menghilang, Krisna menyuruh Arjuna utk minta bantuan Dewa Agni utk memadamkan api. setelah mengucapkan pujian kpd Dewa Agni,, seketika api padam,, Dewa Agni pun mucul di hadapan Arjuna dan Krisna. Dewa Agni merasa sangat puas dgn apa yg dilakukan Arjuna krn telah diberi kesempatan utk memurnikan sesuatu (dlm hal ini hutan ilusi). oleh krn itu Dewa Agni memberikan sebuah senjata kepada Arjuna. senjata itu berupa busur sakti yang mampu meningkatkan kekuatan Arjuna,, busur itu bernama Gandiva. setelah menerima sembah sujud Arjuna, Dewa Agni menghilang.
rakyat merasa gembira karena telah diberi kehidupan kembali,, belum selesai mengungkapkan kegembiraannya,, rakyat bersama Pandawa Drupadi dan Krisna dikejutkan dengan sesuatu. tiba2 seperti muncul dari dalam tanah dgn sendirinya,, mencuat bangunan2 yang membentuk sebuah Kerajaan. semua orang melihatnya dengan terkagum2. dlm sekejap mata di depan mereka telah berdiri sebuah kota yang indah dan istana yang sangat megah dengan kepala singa sebagai simbolnya. Indraprasta, kota tersebut dinamai,, sebagai bentuk terimakasih kpd Dewa Indra. berita ini pun menyebar luas dgn segera. rakyat meluapkan kegembiraannya dengan bersorak2. namun ada satu yang tidak ikut dlm kegembiraan tsb, ialah ayah Vrushali (lupa namanya) yang kebingungan krn tidak menemukan anaknya dimanapun. ternyata Vrushali,, setelah terjun dari tebing karena menghindari gigitan ular,, terdampar di pesisir pantai di wilayah Hastinapura dan ditemukan oleh Adirata ayah Karna. Vrushali dibawa ke rumah tabib. setelah siuman Vrushali menangis menceritakan bahwa rombongan mereka diserang ular dan tidak ada yg selamat. namun tabib menyampaikan berita gembira bahwa semua rakyat yg digigit ular telah selamat. Vrushali merasa gembira dan ingin segera kembali ke Indraprasta. Vrushali pergi ke kota dan ikut bergabung dengan rakyat lain yg hendak pergi ke Indraprasta. Duryudana yg sedang berada di kota merasa tidak senang melihat hal ini,, krn hampir seluruh rakyat Hastinapura ingin pindah dan kota hampir kosong. Duryudana dan Sengkuni pun membuat rencana.
di dalam istana,, Raja telah mendengar kabar berdirinya Indraprasta. Widura mengingatkan janji Raja untuk mengirimkan dua ribu sapi dan koin emas untuk kerajaan yg baru saja terbentuk. Sengkuni yg baru datang memberikan sindiran bahwa Duryudana bersedia mengirimkan lebih banyak sapi dan koin emas tapi tidak rakyatnya. Raja yg mengerti arti sindiran Sengkuni mengeluarkan pengumuman agar tidak ada lagi rakyat yang diperbolehkan pindah. Karna pun ditugaskan untk menjalankan perintah ini.
di gerbang istana,, rakyat meninggalkan kota dalam barisan yang rapi dan teratur. tiba2 terdengar seruan Karna untuk menutup gerbang istana. rakyat pun buru2 ingin cepat melintasi gerbang. terciptalah keributan di gerbang istana. rakyat berdesak2an,, banyak yg jatuh dan terinjak. saat gerbang hampir menutup,, Karna melihat seorang anak kecil yg terpisah dgn ayahnya tepat di depan celah gerbang. Karna segera turun dan menahan gerbang sehingga anak kecil tersebut dapat keluar,, akhirnya gerbang pun tertutup. rakyat yg belum sempat keluar merasa kecewa dan memaksa minta keluar. Karna menyampaikan pengumuman Raja dan mengancam rakyat yg keluar akan dihukum. dari dalam kerumunan Vrushali maju. sebagai seorang teman,, Vrushali memohon Karna membiarkannya pergi karena ayahnya telah berada di Indraprasta,, namun Karna menolak. terjadi perdebatan dan Vrushali tetap memaksa pergi dan melewati barisan prajurit yg menghalangi rakyat. Karna memperingati Vrushali tapi ia tidak berhenti. Karna pun mengancam akan menangkapnya,, Vrushali terkejut namun tidak menghentikan langkahnya. Karna memerintahkan prajurit untuk menangkap Vrushali. tiba2 Ibu Kunti datang dan mengingatkan Karna agar tidak bertindak kejam. namun Karna tidak bisa berbuat apa2 karena ini merupakan perintah Raja. Dursasana yg sedaritadi memperhatikan perdebatan ini memperingati Ibu Kunti untuk tidak melanggar perintah Raja, namun Ibu Kunti yg merupakan Ibu Ratu merasa untuk memberi perintah,, Ibu Kunti pun mengatakan bahwa Vrushali ada dalam perlindungannya dan akan mengantarkan sendiri Vrushali ke Indraprasta. setelah memberikan sedikit nasehat pada Karna,, Ibu Kunti pergi diikuti Vrushali. tinggallah Karna sendiri tertegun dan bersedih,, pada saat itu pula ia melihat wajah ayahnya yang berpaling dengan kecewa,, Karna pun semakin merasa sedih dan bersalah..
Kisah Mahabharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra. Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Kurawa.

Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan 7 anak, akan tetapi semua ditenggelamkan ke laut Gangga oleh Dewi Gangga dengan alasan semua sudah terkena kutukan. Akan tetapi kemudian anak ke 8 bisa diselamatkan oleh Prabu Santanu yang diberi nama Dewabrata. Kemudian Dewi Ganggapun pergi meninggalkan Prabu Santanu. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan ,yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.


Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi dipanggil untuk mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Drestarastra. Kemudian Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam sebuah kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putra yang buta (Drestarastra) seperti yang telah dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (putranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat. Drestarastra dan Pandu mempunyai saudara tiri yang bernama Widura. Widura merupakan anak dari Resi Byasa dengan seorang dayang Satyawati yang bernama Datri. Pada saat upacara dilangsungkan dia lari keluar kamar dan akhirnya terjatuh sehingga Widura pun lahir dengan kondisi pincang kakinya.


Dikarenakan Drestarastra terlahir buta maka tahta Hastinapura diberikan kepada Pandu. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan kutukan bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Atas bantuan mantra Adityahredaya yang pernah diberikan oleh Resi Byasa maka Dewi Kunti bias memanggil para dewa untuk kemudian mendapatkan putra. Pertama kali mencoba mantra tersebut datanglah Batara Surya, tak lama kemudian Kunti mengandung dan melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Karna. Tetapi Karna kemudian dilarung kelaut dan dirawat oleh Kurawa, sehingga nanti pada saat perang Bharatayudha, Karna memihak kepada Kurawa. Kemudian atas permintaan Pandu, Kunti mencoba mantra itu lagi, Batara Guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira, setahun kemudian Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, Batara Guru juga mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Arjuna dan yang terakhir Batara Aswan dan Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Dewi Gandari, dan memiliki sembilan puluh sembilan orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Kurawa.


Pandawa dan Kurawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Kurawa (khususnya Duryudana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Kurawa, yaitu Drestarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sengkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryudana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa

Pada suatu ketika, Duryudana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryudana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa bisa diselamatkan oleh Bima yang telah diberitahu oleh Widura akan kelicikan Kurawa sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan raksasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu raseksi Hidimbi atau Arimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.


Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Pancala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Adipati Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Drupadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana.


Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, Arjuna untuk memenangkan sayembara senjata Panah, Bima memenangkan sayembara Gada dan Nakula - Sadewa untuk memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.

Drupadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.


Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita.


Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Kurawa. Kurawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryudana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Drupadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.

Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira, Duryudana mengundang Yudistira untuk main dadu, ini atas ide dari Arya Sengkuni. Pada saat permainan dadu, Duryudana diwakili oleh Sengkuni sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Drupadi dijadikan taruhan. Akhirnya Yudistira kalah dan Drupadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryudana. Duryudana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Drupadi, namun Drupadi menolak. Setelah gagal, Duryudana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Drupadi. Drupadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya diminta untuk menanggalkan bajunya, namun Drupadi menolak. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Drupadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Dropadi dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha.


Drupadi yang merasa malu dan tersinggung oleh sikap Dursasana bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum dikramasi dengan darah Dursasana. Bima pun bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Drestarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.

Duryudana yang merasa kecewa karena Drestarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.


Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryudana. Namun Duryudana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.
Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Setyaki, Drestadjumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryudana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Kurawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Kurawa. Kurawa dibantu oleh Resi Dorna dan putranya Aswatama, kakak ipar para Kurawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kertawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sengkuni, Karna, dan masih banyak lagi.


Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Durna, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sengkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Krepa dan Kertawarma. (Nanti diceritakan dalam kisah Bharatayudha)

Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Drupadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. (Diceritakan dalam kisah Pandawa Seda)


Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura. (Diceritakan dalam kisah Parikesit)
Ada banyak yang berpikir bahwa kisah Mahabharata itu DONGENG. Avatar Sai Baba pernah mengatakan tanggal, bulan , tahun dan jam Krishna lahir…Bahkan sewaktu perang di Kurukshetra, Sai Baba mengatakan Krishna berusia lebih dari 100 tahun dan Arjuna lebih dari 80 tahun.
Siapakah ksatria terhebat di dunia frends? Apakah Genghis Khan atau Hitler? Prabowo? Napoleon? TIDAK….Ksatria itu juga bukan ARJUNA atau KARNA…Dia adalah putra ARJUNA & SUBADRA yang bernama ABIMANYU.
Abimanyu terdiri dari dua kata Sanskerta, yaitu abhi (berani) dan man'yu (tabiat). Dalam bahasa Sanskerta, kata Abhiman'yu berarti "ia yang memiliki sifat tak kenal takut" atau "yang bersifat kepahlawanan".
Riwayatnya dituturkan sebagai pahlawan yang tragis. Ia gugur dalam pertempuran besar di Kurukshetra sebagai salah satu kesatria termuda dari pihak Pandawa, karena baru berusia 16 ( enam belas ) tahun. Abimanyu menikah dengan Utara, putri Raja Wirata dan memiliki seorang putra bernama Parikesit, yang lahir tak lama setelah Abimanyu gugur.
Kenapa CSK menobatkan ABIMANYU?
Pada pertempuran di hari ketiga belas, pihak Korawa membuat formasi perang melingkar yang dikenal sebagai Cakrawyuha, f ormasi Cakravyuha.
Arjun dan Krishna harus berangkat ke Virat nagar untuk mengatasi sena dari Susharma dan sisanya melanjutkan untuk medan perang hari itu. Sejak Arjun belum juga pulang, Abimanyu memutuskan untuk masuk chakravyuha dan memecahkannya. Pandawa lainnya memutuskan untuk mengikuti Abimanyu karena tidak satupun dari mereka tahu bagaimana untuk masuk dan keluar kemudian.
Sebelum bertempur, Dropadi memberi Abimanyu raksha kawach (gelang keberuntungan) yang diberkati oleh Dropadi rupanya terjatuh di tanah tanpa diketahui Abimanyu. Tabib kemudian mengatakan bahwa istri Abimanyu, Uttara hamil.
Sebelum berita kehamilan Uttara mencapai Abimanyu, Abimanyu teah menggunakan kelihaiannya untuk menembus formasi tersebut.
Jayadrata, Raja Sindhu menghentikan Pandawa memasuki chakravyuha tersebut. Pandawa gagal untuk mengalahkan Jayadrata karena ia diberikan anugerah Mahadewa —kecuali Arjuna—hanya untuk satu hari. Mereka meminta Abimanyu untuk keluar dari Chakravyuha tersebut.
Namun, Abimanyu bergerak ke pusat Chakravyuha tersebut. Abimanyu berjuang sendirian dalam menghadapi serangan pasukan Kurawa.
Ashwathama, Dushyasan dan Sakuni menyerang Abimanyu, tapi ia berhasil membela diri. Duryodhana meminta Dronacharya dan Karna untuk mengangkat senjata melawan Abimanyu. Dia memerintahkan Karna untuk menyiksa Abimanyu sampai mati.
Karna menghancurkan busur Abimanyu. Tanpa menghiraukan aturan perang, 6 ksatria yang juga paman dan kerabat Abimanyu : Guru Drona, Karna, Dursasana, Aswathama, Sakuni, Duryudhana menyerang Abimanyu secara serentak ( main KEROYOK ). Abimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai perisai hancur berkeping-keping.
Abimanyu TIDAK MENYERAH, menunjukkan keberaniannya yang LUAR BIASA meski terkena panah Karna dan Drona, pisau Sakuni, gada Duryudhana,Dusasana dan Aswathama ia bertahan hingga MATAHARI TERBENAM.
Duryudhana meminta Abimanyu memohon padanya untuk segera mengakhiri hidup daripada disiksa terus oleh mereka. Abimanyu tidak melakukannya dan tidak gentar sedikitpun atas penyiksaaan mereka terhadap tubuhnya dan melawan hingga tetes darah terakhir.
Karna akhirnya mengambil inisiatif sendiri membunuh Abimanyu dengan pedang, untuk menghilangkan dari rasa sakit Abimanyu yang lebih lanjut.
Belum pernah ada ksatria yg mampu bertahan hidup dengan penyiksaan selama itu ,mampu melawan dan membalas serangan 6 ksatria Kuru sekaligus. Kebanyakan menyerah dan memohon ampunan
Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna bergegas mengambil senjatanya, namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar tempat Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tanpa memedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama satu tahun.
Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, putri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Irawan.[4] Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Ia memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada putri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila putrinya tersebut melahirkan seorang putra, maka anak putrinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putra. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putra yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah tinggal selama beberapa bulan di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.[5]
Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.
Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.
setelah berdebat dengan Sadewa tentang konsekuensi yg harus ditanggungnya nanti,, Arjuna terpaksa memasuki kamar Drupadi yg saat itu sedang bermain dadu dengan Yudistira. tanpa mengucapkan sepatah kata,, setelah mengambil Gandiwanya Arjuna langsung berlalu. Yudistira dan Drupadi merasa terkejut sekaligus penasaran,, hal apakah yg membuat Arjuna melanggar sumpahnya. setelah mendapatkan Gandiwanya,, lalu Arjuna bergegas pergi ke hutan. Yudistira dan Drupadi bergabung bersama saudara2nya yg lain di depan gerbang istana melihat Arjuna yg telah pergi bersama kudanya. Sadewa pun menjelaskan permasalahannya. Sadewa juga menyampaikan instruksi Arjuna agar Bima menjaga pertahanan kota sementara ia dan Nakula mengobati prajurit yg terluka. Yudistira pun pergi membantu Bima. tinggallah Drupadi yg memandang sedih ke arah kepergian Arjuna.
di dalam hutan yg sepi Arjuna kebingungan,, ia bisa mendengar suara sapi2 tapi tidak seekor sapi pun yg terlihat. sadarlah ia bahwa ini adalah ilusi Taksaka. Arjuna mencari-cari sumber ilusinya. di suatu tempat di dalam hutan,, Arjuna melihat sebuah bola cahaya berwarna biru,, ia pun menembakkan anak panah mengenai bola cahaya tersebut. seketika bola cahaya tersebut lenyap dan tampaklah olehnya ribuan sapi di sekelilingnya,, namun Taksaka belum terlihat. Arjuna kembali mencari-cari sambil memasang telinga,, tiba2 terdengar olehnya suara gemuruh yg berasal dari dalam gundukan tanah yg bergerak mendekatinya. menyadari itu adalah Taksaka,, Arjuna berlari menghindarinya namun gundukan tanah itu terus mengejar. kemudian dari dalam gundukan tanah itu muncullah ular raksasa,, Taksaka menyerang,, Arjuna bertahan. dengan segera Arjuna menembakkan panah sehingga muncul lingkaran api yang mengelilingi Taksaka dan membuatnya terkurung namun tidak melukainya. Taksaka meminta Arjuna menembakkan panah ke arahnya,, namun Arjuna menolak karena telah berjanji tidak akan membunuh ular. Arjuna hanya menunggu Taksaka kelelahan hingga akhirnya menyerah,, Taksaka akhirnya mengaku kalah namun bersumpah bahwa ia akan kembali membalas. Arjuna tersenyum dan melepaskan Taksaka dengan menciptakan hujan yg memadamkan lingkaran api yg dibuatnya. setelah kepergian Taksaka,, hari pun menjelang pagi saat Arjuna kembali ke Indraprasta.
di pintu gerbang Indraprasta,, 4 Pandawa bersama Drupadi dan Krisna telah menunggu kedatangan Arjuna dengan wajah sedih. Yudistira maju menyambut kedatangan Arjuna. Arjuna berkata bahwa ia telah melanggar sumpah dan pantas menerima hukuman. Yudistira yg tidak bisa menyangkal hal ini hanya dapat berkata bahwa berkat keberanian, keahlian, dan ilmu pengetahuannya Arjuna akan selalu diingat sebagai pahlawan. Arjuna tersenyum kemudian mendatangi ketiga saudaranya yg lain. setelah berpamitan dengan saudara2nya,, Arjuna berpamitan kepada Krisna yg kemudian berpesan agar di akhir masa hukumannya Arjuna datang ke kuil Somnath di Dwaraka. setelah itu Arjuna mendatangi Drupadi untuk berpamitan dan meminta maaf karena telah melanggar sumpah. Drupadi memafkan dan memberikan doanya menyertai Arjuna. Drupadi membantu Arjuna menanggalkan aksesoris kerajaannya dan menggati bajunya dengan baju pertapa. setelah selesai bersiap-siap,, tiba saatnya untuk Arjuna pergi. melalui tetesan airmatanya Drupadi memberikan doa dan berkat agar tidak ada yg dapat menyakiti Arjuna selama masa hukumannya. Arjuna pun pergi setelah berpamitan untuk yg terakhir kalinya kepada semua orang yg ada di sana. semua orang pun merasa sedih terlebih lagi Drupadi yg akan berpisah dengan suami tercintanya..
beberapa saat setelah kepergian Arjuna mengasingkan diri.
di Hastinapura,, Sengkuni terlihat sangat senang,, ia melompat dan menari2 sambil menaburkan serbuk warna warni. tiba2 datang Dusashana dan Duryudana yg terlihat gusar karena merasa rencananya telah gagal. Sengkuni menenangkan keponakan tersayangnya dengan mengatakan walaupun Taksaka kalah dan Pandawa mendapatkan sapi2 mereka,, penobatan tetap tidak bisa dilakukan karena menunggu Arjuna kembali dari masa hukumannya. kemudian mereka menyusun strategi untuk menggagalkan acara penobatan Raja Yudistira (Rajsuya Yajna). mereka hendak menjalin persekutuan dengan musuh Hastinapura yg kemungkinan akan diajak bersekutu oleh Indraprasta. karena selama ini Pandawa dekat dengan Krisna yg merupakan bangsa Yadawa dari Dwaraka,, maka diputuskan untuk mendekati Balarama,, kakak Krisna. Sengkuni menyampaikan rencananya bahwa Duryudana harus menjadi murid latihan gada dari Balarama,, dan setelah menjadi murid kesayangan maka Duryudana akan mempersunting Subadra,, adik dari Balarama dan Krisna.
di Indraprasta,, Krisna yg sedang duduk di taman bunga melihat Drupadi sedang berlatih panah,, namun ia tak bisa menciptakan satupun anak panah,, hal ini dikarenakan hatinya yg sedang kacau. Krisna datang dan menyuruhnya menenangkan hati,, namun kekhawatiran Drupadi akan Arjuna membuat hatinya tidak bisa tenang karena merasa jauh dengan orang yg dicintainya. Krisna pun berkata bahwa orang yg dicintai akan selalu berada dekat di hati,, maka dari itu ia menyuruh Drupadi untuk tenang karena dengan hati yg tenang Drupadi akan dapat melihat Arjuna. Drupadi mencoba saran Krisna dan benar saja,, akhirnya ia dapat menciptakan anak panahnya.
beberapa tahun kemudian di Dwaraka,, Arjuna yg akan mengakhiri masa hukumannya tiba di kuil Somnath untuk melakukan pertapaan sesuai saran Krisna. di sana ia melihat Duryudana bersama Balarama berlalu dihadapannya tanpa mengenali dirinya. tak lama kemudian datang Sengkuni bersama Krisna. dari pembicaraan Krisna yg didengarnya,, Arjuna tahu bahwa Duryudana hari itu akan menikahi Subadra untuk membentuk aliansi antara bangsa Kuru dan Yadawa. Krisna yg menyadari kehadiran Arjuna di sana menyuruh Sengkuni untuk meminta berkat dari para brahmin dengan menyentuh kakinya (ini kayaknya si mamashree dikerjain sama Krisna deh..) namun Sengkuni segera menyadari bahwa salah satu diantaranya adalah Arjuna.
masih di Dwaraka,, di tepi pantai,, Sengkuni Duryudana dan Dushasana berkumpul untuk membicarakan strategi mereka sambil memperhatikan Krisna yg sedang bermain dengan anak2nya di pantai. Sengkuni merasa Krisna dapat membahayakan strateginya. saat masih menerka2 rencana Krisna,, dan memperkirakan kemungkinan keberhasilan rencana mereka,, ternyata dari kejauhan Krisna memanggil Sengkuni untuk bermain bersama. awalnya Sengkuni merasa takut untuk datang,, namun demi mengetahui rencana Krisna maka ia pun memenuhi panggilan Krisna.
sementara di dalam kamarnya,, Subadra merasa sedih memikirkan pernikahannya dengan Duryudana. kemudian datang Ibu Kunti sebagai perwakilan dari Ibu Gandari membawakan perhiasan untuk Subadra. Subadra pun menangis dipelukan Ibu Kunti dan mengaku bahwa ia telah memilih Arjuna sebagai suaminya. Kunti terkejut namun tidak dapat berbuat apa2 karena Arjuna sedang dalam pengasingan. Subadra menjadi kecewa,, namun Kunti meminta Subadra agar percaya dengan apapun keputusan kakak2nya. di tengah kekecewaannya,, seorang pelayan datang menyampaikan pesan Krisna bahwa Subadra harus pergi ke kuil untuk mengundang salah satu brahmin ke Dwaraka. awalnya Subadra menolak,, namun setelah Ibu Kunti ikut membujuk,, pergilah ia ke kuil untuk menjemput seorang brahmin yg tak lain adalah Arjuna,, untuk memenuhi undangan Krisna. lalu merekapun pergi ke Dwaraka.
di pantai,, Sengkuni dan Krisna masih bermain,, Sengkuni memperingati Krisna utk tdk mengacaukan rencananya yaitu membuat tahta Hastinapura menjadi milik adiknya tercinta dan anak2nya. dan Krisna pun berjanji akan membantu terciptanya aliansi antara bangsa Kuru dan Yadawa. Sengkuni juga mengancam bahwa bila ternyata Arjuna telah berada di wilayah Dwaraka maka Hastinapura dan Dwaraka akan menjadi musuh,, Krisna lalu mempersilahkan Sengkuni untuk membuktikan ucapannya. ditemani Dushasan,, Sengkuni pergi ke kuil Somnath untuk mencari Arjuna,, namun Arjuna sudah tidak ada di sana.
di Dwarka Subadra bertemu dengan Krisna,, Subadra mengantarkan tamu khusus kakaknya itu dengan wajah masam. akhirnya Krisna memberitahukan kepada Subadra bahwa brahmin itu adalah Arjuna,, seketika itu juga wajah Subadra menjadi cerah kembali..
Di episode sebelumnya, kita telah banyak melihat ritual pernikahan yang ditayangkan di Mahabharata. Beberapa dari kalian mungkin menanyakan maksud dari ritual tersebut dan apakah artinya. Sedikit akan saya coba bahas di sini. Postingan ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang tradisi pernikahan yang belum kita kenal sebelumnya.
1. Pengambilan Sumpah. Sebelum upacara inti berlangsung, para mempelai mengambil sumpah secara bersamaan di depan api suci. Dalam tradisi upacara Hindu, api merupakan elemen penting yang bertindak sebagai saksi dari upacara yang sedang dilaksanakan. Para mempelai membawa sedikit air suci dan menyebutkan sumpah mereka. Setelah itu air tersebut dituangkan ke dalam api suci dan berdoa memohon kelancaran upacara pernikahan. Air melambangkan sumpah dan janji pernikahan yang suci, bersih, dan dapat memadamkan api2 pertengkaran dlm kehidupan suami istri.
2. Persembahan. Setelah pengambilan sumpah, para mempelai dibacakan doa2 dan mempersembahkan berbagai macam benda (bunga, daun, air, susu, minyak ghee, dll) ke dalam api suci. Pertama2 mereka melempar benda2 tersebut secara masing2 dan kemudian bersamaan (tangan kanan mempelai pria dibawah tangan kanan mempelai wanita). Hal ini bermakna setelah memasuki kehidupan berumah tangga, diharapkan kedua mempelai dapat terus menjalankan kewajiban sebagai pemeluk agama yang taat dan tidak lupa mempersembahkan apapun yang dimiliki baik pribadi maupun bersama.
3. Pemutaran api suci. Pemutaran ini dilakukan 4 kali searah jarum jam. Kain di ujung belakang mempelai pria di ikatkan ke ujung depan kain mempelai wanita. Ikatan ini menandakan hubungan suami istri yang terus melekat dan tidak pernah putus. 3 putaran pertama dipimpin oleh mempelai pria sebagai calon kepala keluarga. Selama putaran ini berlangsung, mempelai pria mengucapkan sumpahnya. Putaran pertama ditujukan kepada Tuhan, dimana mempelai pria bersumpah untuk tidak melupakan kewajiban kepada Tuhan dan menjunjung tinggi dharma. Putaran kedua ditujukan kepada istri, dimana mempelai pria bersumpah untuk selalu menjaga kehormatan istri, mensejahterakannya, dan setia kepadanya. Putaran ketiga ditujukan kepada keluarga dan keturunan mereka. Putaran ke empat dipimpin oleh mempelai wanita. Pada putaran ini mempelai wanita memanjatkan doa untuk sang suami agar diberi kesehatan, dan kemakmuran, juga menyatakan kesediaan sang istri untuk merawat suami dan keluarga seumur hidup serta menjaga kehormatan suami dan keturunan mereka.

sumber : Hindu Samskaras (Vivaha) - Vedic Dharmic Studies Vol. 6 2003